3 Pahlawan Wanita Indonesia yang Terlupakan Oleh Sejarah

Halo, Harian Wanita Indonesia...

Hawania, Memperingati tanggal 21 April, atau yang biasa kita sebut dengan Hari Kartini biasanya banyak di antara kita memperingati dan mengenang jasa pahlawan terutama pahlawan Wanita Indonesia. Banyak pahlawan wanita Indonesia yang sejak dahulu memperjuangkan kesejahteraan kaumnya. Tapi siapa saja yang Hawanian tahu sebagai pahlawan wanita Indonesia? Di bawah ini ada tiga nama yang memberikan jasa beliau namun mungkin tidak begitu banyak yang mengenal, berikut 3 Pahlawan Wanita Indonesia yang Terlupakan Oleh Sejarah Jikuzu

1. Laksamana Malahayati

harian-wanita-indonesia-3-pahlawan-wanita-indonesia-yang-terlupakan-oleh-sejarah-laksamana-malahayati
Laksamana Malahayati
Belum banyak yang tahu tentang pahlawan wanita Indonesia yang hidup pada masa kesultanan Aceh ini. Laksamana Malahayati memiliki nama asli Keumalahayati, yang kemudian dikenal sebagai Laksamana Malahayati yaitu laksamana wanita Indonesia pertama pada masanya. Keakrabannya dengan dunia angkatan laut diturunkan dari ayahnya Laksamana Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Kakeknya  pun seorang putra Sultan Salahuddin Syah yang memimpin Aceh pada 1530-1539. Perjuangannya yang tercatat sejarah dari armada Malahayati bernama armada Inong Balee,  yang terdiri dari para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Seiring perkembangan pasukannya ini tak hanya terdiri dari para janda, tetapi juga gadis-gadis yang juga ikut bergabung. Inong Balee itu sendiri berarti armada perempuan janda melawan penjajah. 
Selain seorang panglima perang, Malahayati juga seorang diplomat yang memiliki kredibilitas. Kala itu setelah pertempuran melawan armada Belanda, hubungan Aceh dengan Belanda sempat tegang. Pemimpin kaum Belanda saat itu yaitu Prins Maurits berusaha ingin memperbaiki hubungan. Malahayati dikirim oleh Sultan Aceh sebagai representatif untuk melakukan perundingan-perundingan awal dengan utusan Belanda. Hingga pada akhirnya bisa tercapai sejumlah persetujuan.
Namanya dikenang sampai sekarang dan diabadikan sebagai nama salah satu kapal perang Republik Indonesia, KRI Malahayati.


2. Rohana Kudus

harian-wanita-indonesia-3-pahlawan-wanita-indonesia-yang-terlupakan-oleh-sejarah-rohana-kudus
Rohana Kudus
Rohana Kudus adalah tokoh wanita Indonesia yang berpengaruh di dunia media yang lahir tahun 1884 di Sumatera Barat. Rohana bisa jadi banyak dilupakan sebagai pahlawan wanita Indonesia karena ia terlalu ditakuti Belanda pada masanya. Pemikirannya kritis dan sangat anti-Belanda, beliau juga memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dan berpendapat di muka publik. Jasa-jasanya yang luar biasa antara lain termasuk mengajarkan pendidikan budi pekerti,  agama, politik, jurnalistik, sastra pada orang di sekitarnya.
Rohana Kudus mendirikan surat kabar khusus perempuan yang dinamai Soenting Melajoe, khusus bagi para wanita Indonesia Melayu. Sunting sendiri berarti perempuan, Rohana Kudus yang merupakan saudara seayah dengan Sutan Sjahrir ini menjadi pemimpin  redaksi dibantu oleh Ratna Djuwita, putri dari Datuk Sutan Maharadja. Di surat kabar ini Rohana Kudus memberikan sorotan kepada kehidupan wanita, ia juga menolak poligami sebab hanya akan merugikan wanita dan keluarga. Berkat usahanya Rohana Kudus berhasil meraih penghargaan sebagai Wartawati (Wartawan Wanita Indonesia) Pertama Indonesia dan Perintis Pers Indonesia.

3. Maria Walanda Maramis

harian-wanita-indonesia-3-pahlawan-wanita-indonesia-yang-terlupakan-oleh-sejarah-maria-walanda-maramis
Maria Walanda Maramis
Maria Walanda Maramis , Salah satu tokoh pergerakan nasional yang juga gencar bergerak di bidang pengembangan wanita Indonesia di awal abad 20. Maria Walanda Maramis lahir di Minahasa Utara tahun 1872, tanggal 1 Desember yang diperingati masyarakat Minahasa sebagai ‘Hari Ibu Maria Walanda Maramis’. Hal itu dikarenakan usaha kerasnya menaikkan pengetahuan dan wawasan kaum wanita Indonesia.



Maria Walanda Maramis menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda di usia 18 tahun, yaitu seorang guru bahasa di sekolah Belanda HIS, Manado. Pada Juli 1917, Maria Walanda Maramis mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) dibantu oleh suami dan teman-temannya, yang bertujuan untuk memberi pendidikan pada kaum perempuan segala hal mengenai rumah tangga, misalnya memasak, menjahit, merawat bayi, dan sebagainya. Maria Walanda Maramis memiliki prinsip bahwa perempuan adalah tiang keluarga, masa depan anak-anak bergantung besar dengan adanya sosok perempuan. Pemikiran Maria Walanda Maramis tentang sosok perempuan dituangkannya di harian Tjahaja Siang. Tahun 1932 PIKAT mendirikan Opleiding School Voor Vak Onderwijs Zeressen atau Sekolah Kejuruan Putri. Selain itu, Maria Walanda Maramis juga berjuang supaya wanita Indonesia diberi tempat dalam urusan politik, misalnya hak untuk memilih dan duduk dalam keanggotaan Dewan Kota atau Volksraad.


Selain 3 Pahlawan Wanita Indonesia yang Terlupakan Oleh Sejarah di atas, masih ada banyak lagi pahlawan wanita Indonesia kita yang terlupakan sejarah. Apakah Hawanian bisa memberikan contoh lainnya?

Postingan Populer